Rabu, 21 Maret 2018

Wisata Religi Masjid Tiban Turen-Malang

silviananoerita.com
Mau berbagi cerita pendek saat perjalanan di Malang Kabupaten. Perjalanan kali ini disponsori penuh oleh Silviana Noerita. Mulai dari kendaraannya, bensin, makan dan bahkan parkirnya. Jadi terimakasih banyak deh, jalan-jalannya semacam ditraktir. Walhasil, Liburannya dapat, kenyang pun juga  dapat. Dan tentunya, bisa mengabadikan momentum saat liburan hari nyepi tahun 2018.

Baiklah, perjalanan kemarin kami berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan liburan ke salah satu tempat wisata di Malang Selatan. Di daerah Turen, tepatnya wisata religi masjid Tiban Turen. Sebenarnya sih dulu sudah pernah ke lokasi ini, tapi tidak saat mengabadikan moment berupa foto-foto atau vidieo. Karena memang dulu sekitar tahun duaribu duabelas masih belum ada media untuk fotografi. Terlebih teknologinya masih minimun juga. Toh walaupun ada, itupun masuk dalam katagori barang mahal. Kalau sekarang-kan tinggal jepret lewat kamera ponsel sudah bisa mengabadikan moment-nya.

Perjalanan kami lakukan sekitar pukul setengah sepuluh-an. Kalau tepatnya sudah lupa, yang jelas sewaktu dilokasi suasananya sudah panas. Dan bahkan panas banget, karena sudah masuk tengah hari. Dalam perjalanan seharusnya kami lewat daerah Jodipan keselatan, kalau melakukan perjalanan dari Malang Kota untuk menghemat jarak tempuh, tapi sayangnya aku memacu kendaraan kemarin malah memutar arah ke Kepanjen. Hasilnya kami mesti memutari dan melingkari Malang Kabupaten dulu. Tapi tidak menjadi masalah, cuman-kan kalau tahu gini lebih baik dengan jarak yang lebih dekat. Setalah sampai di daerah Pakisaji, aku mulai merasakan kelaparan. Karena memang niatnya sudah gak makan dari kontrakan, siapa tau di traktir. Lalu sekilas menawarkan untuk makan dan berdiskusi dalam perjalanan, untuk menentukan mau makan apa kita saat itu? Dan untungnya Silvi juga masih belum makan. Dan akhirnya, pilihan jatuh pada makan yang berkuah dengan ada ayamnya, lalu rasanya emezing deh. Jatuh pada makanan yang namanya soto.

silviananoerita.com
Sebenarnya gak rugi mampir di warung soto kali ini. Karena terpengaruh sama banyaknya pelanggan kala itu ya, sekitar ada empat orang. Makanya kami terhasut untuk ikut gabungan untuk membeli soto. Selain soto, kita pesan minuman, silvi pesan jeruk dan aku sendiri minum air mineral. Selang beberapa saat, selesai sudah makan dan minum. Kami lanjut membayar soto yang telah kami makan, dan kali ini dibayarin penuh tuh, sama silvi. Total keseluruhan semuanya tiga puluh enam ribu rupiah. Dengan uang total enam puluh ribu, jadi dikembalikan dua puluh empat ribu. Awalnya, pedagangnya minta uang empat ribu. Karena gak punya nih, akhirnya alternatif lainnya dengan menambahkan uang sepuluh ribu rupiah. ya banyak warung soto-soto yang buka, tapi pilihan hati memang berbeda. Dan jatuhnya pada warung soto di daerah Kepanjen. Disini kami berdua menikmati soto ayam asli, yang di balihonya tertulis kalau bukan ayam jawa asli boleh dikembalikan. Ya, semacam slogan promosi. Tapi memang benar sih, soto yang disajikan diwarung ini memang ayam jawa asli. Setelah menunggu, tidak berapa lama kemudian soto yang kita pesan akhirnya tiba. Memang disini menyediakan dua jenis soto, ada soto ayam dan soto daging, kali ini pilihannya pada soto ayam saja. Lalu, langsung menyantap soto ini, dan rasanya enak. Dan tentu

silviananoerita.com
Selesai semuanya, kami bergegas kembali memacu perjalanan menuju lokasi yang akan dituju. Memang pernah kesini sebelumnya, tapi aku lupa untuk rute-nya, akhirnya meminta bantuan GPS selama perjalanan. Dan sekitar lebih kurang satu jam, kami sampai di lokasi masjid tiban Turen-Malang. Memang liburan hari minggu, jadi ramai pengunjungnya. Awalnya aku bingung untuk memarkirkan kendaraan dimana, karena sejauh pengetahuan aku dulu bisa parkir didalam. Akhirnya coba iseng-iseng masuk kedalam area masjid. Tapi gak terlalu berani masuk dan menerobos kedalam lingkungan masjid, dan akhirnya parkir juga di tempat parkir umum. Tapi gak jadi masalah juga, selebihnya usaha juga untuk tracking ke lokasi masjid tiban Turen-Malang.

Lebih kurang seratus meter dari lokasi parkir, kami berjalan menuju pusat masjid tiban Turen-Malang. Sebelumnya, kami mempersiapkan perlengkapan dokumentasi, karena memang tujuan utama kami seperti yang telah diceritakan diatas-kan untuk mengabadikan moment, makanya di siapkan kamera tercanggih yang kami miliki. Lalu, silvi juga bawa kacamata lingkaran tuh, yang kalau dipake bisa menyerupai tokoh nobita dalam serial kartun Doraemon. Balik lagi cerita, setelah semuanya komplit, dan nomor kartu parkir sudah di berikan. Kami berdua tracking dengan berjalan kaki menuju masjid tiban Turen-Malang. Dalam perjalanan kami sempatkan foto-foto dari kejauhan, idea muncul tuh dari silvi. Akhirnya foto-foto deh, membuka lensa kamera.

silviananoerita.com
Aku menilai, memang ada perubahan tapi belum signifikan ya. Dari tahun 2012 sampai sekarang, mungkin cuman ada pemeliharaan. Selebihnya, bangunan-bangunan yang baru masih minim adanya. Dan seingat aku dulu masjid ini masih belum rampung penyelesaiannya sampai lantai sepuluh. Dan sekarang sudah nampak, tapi sayangnya gak bisa sampai diatas lantai sepuluh, untuk mendapatkan view yang diharap-harapkan.

Lepas masuk di pintu utama, kita diwajibkan untuk meminta tiket masuk kedalam masjid tiban Turen-Malang. Tapi kalau dari toa yang aku dengerin, kayaknya mereka (pengurus pesantren) bilangnya tamu pondok. Entahlah, yang mana yang benar terserah deh. Yang pasti, kalau pondok punya masjid sendiri, gitu sederhananya. Masuk ke area masjid tiban Turen-Malang kita diharuskan untuk melepaskan alas kaki, entah itu sendal, sepatu, klompen atau sebagiannya. Tapi tidak untuk kaos kaki, walaupun tergolong alas kaki.

Melihat sekeliling dilantai bawah kita disajikan beberapa ruangan yang cocok untuk fotografi. Ada juga akuarium yang hampir mengelilingi seluruh dinding masjid. Juga bisa melihat ikan-ikan emas yang hidup sehat di dalam akuarium. Cocok buat wisata anak-anak, bisa menghibur dan gak jenuh kalau melihat masjid yang umumnya orang beranggapan kalau masjid indentik dengan tempat ibadah, yang isi didalamnya perlengkapan ibadah menghadap Tuhan. Dan ketika itu, aku dan silvi hanya keliling sebentar lalu tembus pada pintu lain, entah itu pintu keluar atau masuk yang jelas orang-orang berseliweran. Karena ambisi pribadiku untuk mendapatkan foto di lantai sepuluh, akhirnya aku coba bertanya pada petugas. Dan diarahkan pada lorong kecil yang dipisah menjadi dua bagian, disana tertulis masuk wanita dan masuk pria. Jadi dua gander ini terpisah dalam terowongan, yang kalau masuk kedalamnya semacam horor-able. Gak horor gimana, selain kurang pencahayaan, juga kondisi yang eksekutif tertutup rapat. Jadi pikiran-ku waktu itu lekas melangkah keatas untuk mencari titik temu cahaya. Biadab juga, diarahkan ke lokasi yang memancing adrenalin. Langkah yang keliru saat itu, tapi tak masalah hanya sebentar dan mampu melewatinya dengan aman sampai dilantai lima kalau gak enam.

silviananoerita.com
Minim sekali petunjuk, dan kesannya banyak anak tangga sehingga membingungkan kami untuk kemana-mana di masjid tiban Turen-Malang ini. Yang jelas, kalau masuk ke lantai tujuh dan delapan kalian akan disuguhkan dengan penampakan jual-jualan yang siap mengkuras habis rupiah anda. Jadi siapkan saja, masjid tiban Turen-Malang ini bukan masjid lazim pada umumnya. Ada wisata, sekaligus jual-jualan di dalam masjid. Uniknya lagi kalau sudah tiba panggilan sholat duhur maka melalui toa yang ada di masjid untuk pedagang yang ada di lantai tujuh dan delapan menutup lapaknya sementara.

Mencari dan mencari spot-spot foto indah dan prestisius untuk diabadikan itu misi utamanya, akhirnya kami dapatkan itu di beberapa sudut dari masjid tiban Turen-Malang. Setelah berputar, putar lelah berkeliling dengan tersesat ria dalam masjid, yang kadang ramai sumpek dan bikin tensi dua ratus persembilan puluh, naik pitam sampai keubun-ubun Sampai pada horor tingkat langit, yang membius untuk bergegas keluar mencari cahaya terang. Terlebih lagi buka pasang alas kaki yang waktu itu kami memakai sepatu, kesal dan ada rasa jengkel, tapi mau gimana lagi? Sampai-sampai kami pun lihat ada sebagian pengunjung yang mungkin mereka sudah tidak lagi sabar dengan pasang lepas alas kaki, makanya dilepas terus. Walaupun mereka sadar dan tahu ada sebagian lokasi yang tidak mengharuskan melepas alas kaki.

Lama berkelana, mengeksplorasi, dan merintangi sunyi ramainya masjid tiban Turen-Malang. Kami memutuskan untuk sejenak menikmati tingginya masjid dari lantai delapan. Disini kami berdua foto-foto, melepas penat dan juga semacamnya. Tapi hasil keseluruhannya, kami senang dengan wisata religius masjid tiban Turen-Malang. Utamanya, karena gratis. Semoga perbaikan lekas digarab, dan tentu santri-santri masjid menjadi pandai dan termotivasi karena masjid yang keren berdekatan dengan pondok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar